OKI, Sumatera Selatan — Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan melestarikan kearifan lokal, tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yakni Universitas Terbuka (UT), Universitas Sriwijaya (Unsri), dan Universitas Airlangga (Unair) menggelar program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) tahun 2026. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), pada Jumat (14/8/2026).
Mengusung tema “Transformasi Ekonomi Kreatif Melalui Inovasi Produk dan Digital Marketing Kerajinan Anyaman Purun,” program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal, khususnya kaum perempuan yang sejak turun-temurun mengandalkan tradisi menganyam sebagai tumpuan ekonomi keluarga.

Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan akademisi dari masing-masing universitas, di antaranya Dr. Meita Istianda (Universitas Terbuka), Dr. Agustina Bidarti (Universitas Sriwijaya), dan Dr. Gayung Kasuma (Universitas Airlangga), serta Kepala Desa Menang Raya, Rian Saputra, S.H..
Dalam pemaparannya, Dr. Meita Istianda dari Universitas Terbuka menekankan pentingnya inovasi agar kerajinan purun tidak hanya terpaku pada produk tradisional seperti tikar, melainkan dikembangkan menjadi berbagai variasi produk kreatif bernilai jual tinggi. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus mendongkrak kesejahteraan pengrajin.
Sementara itu, perwakilan Universitas Sriwijaya, Dr. Agustina Bidarti, menyampaikan bahwa pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup pelatihan pemasaran digital (digital marketing) agar jangkauan pasar para perajin semakin luas melalui platform daring. Selain itu, program ini turut memotivasi masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas hidup generasi muda di masa depan.
Dr. Gayung Kasuma dari Universitas Airlangga menambahkan bahwa Pedamaran memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi sentra kerajinan purun berskala nasional maupun internasional. Kendati demikian, ia mengingatkan adanya tantangan nyata seperti ancaman alih fungsi lahan lebak yang menjadi habitat alami tanaman purun serta tantangan regenerasi pengrajin. Sebagai solusi, para pengrajin didorong untuk terus berinovasi menghasilkan produk turunan seperti tas, topi, dompet, hingga sajadah, serta mendaftarkan Indikasi Geografis guna melindungi identitas budaya lokal.
Kepala Desa Menang Raya, Rian Saputra, S.H., menyambut baik dan mengapresiasi tinggi kolaborasi lintas perguruan tinggi ini. Ia berharap program pendampingan berkelanjutan ini dapat semakin mengangkat warisan budaya takbenda khas Pedamaran ke kancah yang lebih luas, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
