Kabupaten Bogor, 25 September 2026
- Prodi Sosiologi Universitas Terbuka mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kantor Desa Pengasinan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Mengangkat tema “Pengasuhan Anak sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Anak di Desa Pengasinan, Kabupaten Bogor”, acara ini diikuti oleh 37 peserta dari guru-guru TK, Paud, SD setempat dan Kader PKK Desa Pengasinan. Tema yang diusung dilatarbelakangi oleh kondisi yang relate terkait dengan pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya di era digital saat ini. Mengingat betapa luasnya konten di media sosial yang dapat dengan mudah diakses oleh anak-anak, baik dari platform YouTube, WhatsApp, maupun Game Online, yang semakin membuka kemungkinan anak-anak mengalami kekerasan di media sosial, maupun dari anak-anak di lingkungan sekitarnya yang menelan konten-konten buruk dari media digital.

Ketua Tim PkM, Ibu Sri Pujiati, S.Pd., M.Sos. membuka acara dengan menyampaikan terima kasih atas antusiasme yang diberikan oleh Ibu-Ibu PKK beserta Ibu dan Bapak Guru dari Paud, TK, dan SD di Desa Pengasinan. Kemudian beliau juga menyampaikan pentingnya orang tua dan guru menyikapi fenomena kekerasan terhadap anak ini yang dapat berlangsung dari teman sepermainannya di rumah maupun dalam bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang hari demi hari semakin marak terjadi di Indonesia. Begitu pun dengan sambutan hangat dari Ibu Yeni Nuraeni, selalu Ketua Kader PKK Desa Pengasinan, yang menyambut dengan antusias tema dari PkM ini karena masuk ke dalam Program Kerja 1&2  PKK dan berharap bahwa kegiatan serupa dapat terus berjalan demi keberlangsungan pola asuh yang sehat di lingkungan Desa Pengasinan.

Acara berlangsung dengan penyampaian materi oleh Ibu Nur Hayati, S.Pd., M.A., yang membahas judul “Melindungi Buah Hati, Menjaga Masa Depan.” Dalam pembahasannya, Ibu Nur menerangkan bahwa mempelajari topik kekerasan terhadap anak akan berlangsung sangat menarik karena impian bagi setiap orang tua adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak, baik di rumah, sekolah, media sosial, maupun lingkungan sekitar. Beliau menyampaikan bentuk-bentuk kekerasan, sehingga para orang tua dan guru dapat lebih menyadari fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar anak-anak mereka dan dapat mengidentifikasi apakah fenomena tersebut merupakan bentuk kekerasan atau tidak. Ibu Nur juga memberikan edukasi terkait tanda-tanda seorang anak menjadi korban, seperti pola makan dan tidur yang terganggu, nilai akademik menurut, sikap yang berbeda ketika mereka menggunakan gadget, dan mereka yang menjadi saksi KDRT. Beliau pun menyebutkan berbagai dampak kekerasan bagi anak, yakni gangguan emosional dan kecemasan, gangguan kepercayaan, rendah diri dan perilaku agresif, serta menyebabkan siklus berulang di mana seorang anak dapat menjadi pelaku kekerasan dari kebiasaan mereka mengonsumsi kekerasan itu sendiri yang menjadikan pola pikir mereka menganggap hal tersebut wajar, lalu mereka aplikasikan kepada orang lain. Contoh paling nyata dari siklus berulang adalah ketika seorang anak menjadi korban KDRT dan saksi KDRT oleh orang tuanya di rumah.

Materi kedua diisi oleh Ibu Dra. Yulia Budiwati, M.Si yang membuka materi dengan refleksi diri sebagai seorang Ibu atau orang tua dari anak maupun guru yang memegang banyak peran dan tanggung jawab di panggung masyarakat. Beliau menyampaikan, beban yang terkumpul di pundak seorang orang tua terkadang malah terlampiaskan melalui tindakan-tindakan kekerasan kepada anak, seperti mencubit, memukul, membentak, maupun mengabaikan. Padahal menurut beliau, kekerasan bukanlah wujud dari kedisiplinan, melainkan hilangnya kendali emosi orang dewasa. Selanjutnya, Ibu Yulia menyampaikan cara menyikapi stres dengan Teknik GROW (Goal, Reality, Options, dan Will) yang berisi tentang pembentukan tujuan, kesadaran akan situasi, kesadaran untuk memilih apa yang dapat dilakukan, kemudian langkah kecil apa langkah kecil berkomitmen apa yang dapat dilakukan. Selain itu, ada juga Teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, dan Proceed) mengenai kesadaran untuk mengambil jeda fisik dan mental, menyadari waktu untuk mengambil napas, menyadari kondisi saat ini tanpa menghakimi, kemudian melanjutkan aktivitas dengan tenang. Ibu Yulia terus mengingatkan bahwa seorang Ibu memiliki hak untuk mendidik dan juga menghargai hak anak untuk dipahami. Beliau pun menekankan bahwa di setiap beban menjalani berbagai peran sebagai seorang Ibu, istri, maupun peran di masyarakat, akan selalu ada keindahan dari semua itu, terutama nikmat pahala dari Tuhan. Hal yang paling utama adalah regulasi emosi orang tua, yakni ketenangan seorang Ibu adalah jangkar bagi keluarga. “Menjadi Ibu adalah perjalanan yang indah, namun seringkali dipenuhi dengan kelelahan yang tak terucapkan. Tetapi ingat, Anda tidak sendirian dalam menghadapi kompleksitas emosi pengasuhan,” seru Ibu Yulia di akhir sesi materinya. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab yang berkaitan dengan masalah yang benar-benar dihadapi oleh orang tua dan guru di wilayah setempat.

Acara ditutup dengan penyerahan plakat kepada Kepala Desa dan Ketua Kader PKK Desa Pengasinan sebelum ditutup oleh doa dan apresiasi